Monday, December 27, 2010

SDM Unggul

Point penting pembangunan suatu bangsa, terletak pada kemampuan SDM nya. Hal inilah yang kemudian melatarbelakangi Jepang dalam membangun negaranya yang porak poranda setelah dijatuhi bom atom di 2 kotanya. Dampaknya, kemajuan dan kiblat teknologi asia saat ini diakui mengarah ke negeri sakura. Tak ketinggalan Indonesia pun menerapkan proporsi anggaran sebesar 20% dari APBN untuk pendidikan. 
Pendidikan menjadi pilar penting dalam mewujudkan kemajuan. Baik kemajuan dari sisi pemikiran, kemajuan ekonomi, dan kemajuan peradaban. Melalui pendidikan akan terbentuk insan-insan cendekia, yang mampu menganalisis persoalan dan merumuskan solusi terbaik. Pendidikan pula lah yang mampu memutus mata rantai kemiskinan secara efektif, mengangkat derajat  "yang termarginal" oleh arus modernisasi dan pembangunan, menegakkan kebenaran dan tata nilai yang semakin terkikis arus globalisasi.
Untuk itulah, Mentas Unggul Institute (baca MU) lahir sebagai salah satu solusi dalam mengatasi kesenjangan pendidikan generasi saat ini. MU hadir dengan program peningkatan kompetensi, program pendidikan formal - informal, dan program-program lain yang dirancang untuk mewujudkan SDM Unggul. Dari MU akan lahir generasi yang Mentas dan Unggul.

Tuesday, April 14, 2009

Dare to be a Leader

Menjadi pemimpin tak semudah yang dibayangkan, tetapi tak sesulit yg harus dijalankan. Aneh memang, pernah ada yg bilang bahwa leadership itu bakat, keterampilan yg diwarisi baik dari orang tua atau lingkungan sosial. Tetapi saya lebih suka menyebutnya dengan "pelajaran". Yah memang seperti ketika masih kuliah dulu atau semasa sekolah. Kehidupan ini adalah soal ujian bagi kita, dan untuk menjadi seorang pemimpin,maka seseorang harus memilih soal-soal pelajaran kepemimpinan yang diberikan oleh Allah Swt. Kenapa begitu? menjadi pemimpin tak semudah membalik telapak tangan. jika dengan mudahnya seseorang menjadi pemimpin,maka bisa jadi kepemimpinannya adalah kepemimpinan yg penuh dengan masalah. Ini krn mereka belum mengenal gaya kepemimpinan. Coba tengok sejarah para khalifah yg diwarisi dr garis keturunan, rata-rata mengalami masalah dan bertindak otoritarian. Beranikah kita menjadi pemimpin? beranikah kita menjawab soal-soal kepemimpinan? Coba tanya kepada hati masing-masing :)

Sunday, July 8, 2007

ETOS

Iman seringkali diartikan dan dipahami sebagai sebuah bentuk kepercayaan ataupun pengakuan eksistensi. Jika seseorang telah mengatakan beriman, maka dia telah percaya atau mengakui sesuatu itu ada. Karena memang dari asal kata bahasa arab iman itu berarti percaya. Namun pemahaman iman tidak boleh hanya berhenti sebatas makna percaya atau yakin. Karena bila berhenti pada pengertian percaya, Iblis lebih pecaya dan berpengalaman daripada kita. Iblis pernah berdialog dengan Allah sekaligusmenunjukkan pembangkannya. Dan juga karena iman mempunyai makna yg jika dipahami secara benar akan menghasilkan energi mahadahsyat. Sebagaimana bilal sahabat nabi ketika disiksa oleh umayah, dengan bekal iman dalam dirinya bilal mampu menghadapi siksaan di tengah gurun yang sangat panas. Sebutlah mushab yang dengan imannya dia mampu meninggalkan segala kemewahan hidup dan pada akhirnya meninggalkan dunia ini hanya dengan pakaian yang melekat di badannya. Agar kita tidak sama dengan iblis, kata iman harus kita terjemahkan lebih nyata. Harus kita definisikan secara lebih spesifik, yaitu keberpihakan kepada Allah dan RasulNya sesuai dengan Al Quran dan Hadits. Rasulullah bersabda:
Yang dinamakan iman itu ialah apabila kau meyakini didalam hati, menyatakannya dengan lidah, dan melaksanakannya dengan perbuatan.
Saya ingin menekankan pada perbuatan, yaitu melaksanakannya dengan perbuatan, yang berarti ada gerakan aktif untuk mewujudkannya. Al Quran sendiri megukir kata aamanuu sebanyak 285 kali yang sebagian besar dirangkaikan dengan kata kerja ‘amiluushshaalihaat yang mengerjakan amal shaleh. Iman tanpa amal shaleh adalah kebohongan. Orang yang menyatakan dirinya beriman tetapi tidak konsekuen dalam perbuatan maka dia termasuk kategori orang yang sangat dimurkai Allah.
Lihatlah sebuah gelas. Jika gelas diisi dengan kopi, maka kita menyebutnya segelas kopi. Jika diisi dengan susu maka kita menyebutnya segelas susu. Jika diisi dengan racun maka kita menyebutnya segelas racun. Yang memberikan nilai atau nama tersebut adalah isinya. Demikian juga dengan iman, iman adalah wadah, jasad adalah alat dan perbuatan adalah isinya.
Setiap muslim harus menyadari bahwa dirinya hanya bisa disebut sebagai seorang muslim yang kaffah bila memiliki jiwa melayani (stewardship) dalam kehidupannya. Apabila bekerja dan melayani itu adalah fitrah manusia, jelaslah bahwa manusia yang enggan bekerja, malas, dan tidak mau mendayagunakan seluruh potensi dirinya untuk menyatakan keimanan dalam bentuk amal prestatif sesungguhnya dia itu melawan fitrah dirinya sendiri, menurunkan derajat identitas dirinya sebagai manusia kemudian runtuh dalam kedudukan yang lebih hina dari binatang. Manusia hanya dapat memanusiakan dirinya dengan iman ilmu dan amal.

Iman, ilmu, dan amal berhubungan dengan etos. Etos berasal dari bahasa yunani (ethos) yang memberikan arti sikap, kepribadian, watak, karakter, serta keyakinan atas sesuatu. Etos dibentuk oleh berbagai kebiasaanm pengaruh budaya, serta system nilai yang diyakininya. Dari kata etos lahirlah kata etiket, yang hamper mendekati pada pengertian akhlak atau nilai-nilai yang berkaitan dengan baik buruk (moral), sehingga dalam etos tersebut terkandung gairah atau semangat yang amat kuat untuk mengerjakan sesuatu secara optimal lebih baik dan bahkan berupaya untuk mencapai kualitas kerja yang sesempurna mungkin. Dalam etos tersebut, ada semacam semangat untuk menyempurnakan segala sesuatu dan menghindari segala kerusakan, sehingga setiap pekerjaannya diarahkan untuk mengurangi bahkan menghilangkansama sekali cacat dari hasil pekerjaannya (zero defect). Sikap seperti ini dikenal juga dengan ihsan, sebagaimana Allah menciptakan manusia dalam bentuknya yang paling sempurna (fi ahsani taqwim).

5 Ciri Etos
Cerminan etos terlihat dalam beberapa karakter atau ciri yang melekat pada seorang muslim.
Ciri I : Menghormati waktu
Salah satu esensi dan hakikat etos kerja adalah cara seseorang menghayati , memahami, dan merasakan betapa berharganya waktu. Satu detik berlalu tidak mungkin dia kembali. Waktu merupakan deposito paling berharga yang dianugerahkan Allah SWT secara gratis dan merata kepada setiap orang, apakah dia orang kaya atau orang miskin. Penjahatkah atau orang alimkah akan memperoleh jatah deposito waktu yang sama, yaitu 24 jam atau 1440 menit atau sama dengan 86.400 detik setiap hari. Tergantung kepada masing-masing manusia bagaimana dia memanfaatkan depositonya tersebut. Ibarat kertas, jika usia kita 30 tahun maka ada 30 jilid kehidupan yang setiap jilid terdiri dari 12 bab, masing-masing bab terdiri 365 halaman dimana setiap halamannya terdiri dari 24 baris atau 8760 kata untuk setiap jilidnya. Tergantung pada kita, apakah baris baris itu akan kita penuhi dengan cerita-cerita yang “exciting”, cerita-cerita perjuangan, cerita-cerita persaingan dan kisah perjalanan yang penuh dengan catatan keberhasilan ataukan hanya deretan kisah tentang tidur, sakit, bermalas-malasan, atau malah hanya lembaran kosong tidak bertuliskan apapun di setiap halamannya.
Sadarilah bahwa waktu adalah netral dan terus merayap dari detik ke detik dan sedetikpun tak akan pernah kembali lagi. Dalam Al Quran, Allah bersumpah demi waktu ‘ashr , dimana setiap manusia pasti dalam kerugian keculai mereka yang beriman dan beramal shaleh, dan saling berwasiat dalam kebaikan dan kesabaran. Quraish Shihab dalam kitab tafsirnya menulis “ menurut sementara pakar bahasa, kata kerja ‘ashara pada mulanya berarti menekan sesuatu sehingga apa yang terdapat pada bagian terdalam darinya tampak ke permukaan / keluar. Dengan kata lain, kata tersebut dapat pula diartikan dengan ‘memeras’ “. Dengan demikian diingatkan kepada kita bahwa setiap sore hari seluruh pekerjaan harus sudah kita selesaikan. Segala tugas tidak ada lagi yang tertunda (no pending or delay job). Karena ‘ashr berarti memeras sesuatu sehingga tidak ada lagi air yang menetes. Semua pekerjaan telah tuntas, untuk kemudian diikuti dengan tugas lainnya. “ maka, apabila engkau telah selesai dari suatu pekerjaan, maka kerjakanlah urusan yang lain dengan sungguh-sungguh ” (al insyirah :7).
Ciri II : Disiplin
Seorang yang memiliki etos sadar betul bahwa kehadirannya di bumi ini bukan sekedar being melainkan ada semangat untuk mengisi waktunya menuju pada tingkatan becoming. Oleh karena itu diperlukan sikap konsisten, yaitu sikap taat, pantang menyerah dan mampu mempertahankan prinsip serta komitmennya walaupun berhadapan dengan sesuatu yang beresiko membahayakan dirinya. Konsisten terhadap waktu!!. Karena itu mereka yang sengaja datang ke kantor dengan terlambat telah membuat kezaliman yang luar biasa. Pertama, dia telah mendekati tanda – tanda kemunafikan. Bukankah salah satu tanda orang munafik adalah mereka yang telah berjanji tetapi ingkar. Bukankah karyawan itu telah berjanji untuk datang ke kantor tepat jam setengah delapan pagi sebagaimana tertuang dalam kesepakatan lembaga. Kedua, menzalimi teman kerja yang mempunyai status dan gaji yang sama. Mengapa? Karena kita telah memberikan beban pekerjaan kepada mereka yang seharusnya kita kerjakan. Ketiga, melakukan perbuatan criminal, korupsi waktu.
Ciri III : Ikhlas
Ikhlas merupakan cerminan ketulusan. Memandang tugas sebagai pengabdian, dan keterpanggilan untuk menunaikan tugas –tugas sebagai salah satu bentuk amanah yang seharusnya dilakukan (sesuai jobdesc). Bagaikan seorang ibu yang menyusui putra/putrinya, dia tidak memiliki motivasi lain kecuali memang demikianlah tugas seorang ibu. Kemudian tugas yang dijalankannya secara ikhlas tersebut membuahkan rasa tanggung jawab. Sang ibu tidak sekedar menyusuinya tetapi menjaganya tumbuh sampai besar dan akhirnya melahirkan berbagai hasil atau performance sebagai akibat keterpanggilannya untuk menjaga putra/putrinya tersebut.
Mereka yang ikhlas melaksanakan tugasnya secara professional tanpa motivasi lain kecuali bahwa pekerjaan itu merupakan amanat yang harus ditunaikannya sebaik-baiknya dan memang begitulah seharusnya. Kalaupun ada reward atau imbalan, itu bukanlah tujuan utama melainkan sekedar akibat sampingan (side effect) dari pengabdiannya tersebut.
Ciri IV : Kejujuran
Honest berasal dari bahasa latin honestus (honorable) atau honos (honour), yang didefiniskan sebagai : tidak pernah menipu, berbohong, atau melawan hokum (never cheating, lying, or breaking the law). Berani menyatakan sikap secara transparan, terbebas dari segala kepalsuan dan penipuan (free from fraud or straigtforwardness), dan karenanya memiliki keberanian moral yang sangat kuat.
Perilaku yang jujur adalah perilaku yang diikuti oleh sikap tanggungjawab atas apa yang diperbuatnya tersebut (integritas). Kejujuran dan integritas bagaikan dua sisi mata uang. Seseorang tidak cukup hanya memiliki keikhlasan dan kejujuran, tetapi dibutuhkan pula nilai pendorong lainnya, yaitu integritas. Budaya kerja Islam sangat mendorong untuk melahirkan seorang yang professional sekaligus memiliki integritas yang tinggi. Jika seseorang jujur dan memiliki integritas maka dia akan menjadi panutan. Jika dia jujur tapi tidak mempunyai integritas berarti tidak bisa diandalkan. Jika dia tidak jujur tetapi mempunyai integritas berarti diragukan. Jika dia tidak jujur dan tidak mempunyai integritas berarti dia tidak dapat dipercaya.
Ciri V :Amanah
Amanah sejalan dengan iman yang terambil dari kata amnun yang berarti keamanan atau ketentraman, sebagai lawan kata dari khawatir, cemas atau takut. Sesuatu yang merupakan milik orang lain dan berada ditangan anda disebut sebagai amanah karena keberadaannya di tangan anda tidak membuat khawatir, cemas, atau takut bagi pemilik barang tersebut. Dengan demikian untuk menumbuhkembangkan karyawan yang amanah dibutuhkan paradigma, sikap mental, serta cara berpikir yang benar-benar menghunjam kedalam kalbunya. Sikap tersebut dikenal dengan kata takwa. Takwa merupakan bentuk rasa tanggungjawab yang dilaksanakan dengan penuh rasa cinta dengan menunjukkan amal prestatif dibawah semangat pengharapan ridha Allah, sehingga sadarlah kita bahwa dengan bertakwa berarti ada semacam nyala api di dalam kalbu yang mendorong pembuktian atau menunaikan amanah sebagai rasa tanggungjawab yang mendalam atas kewajiban-kewajiban kita sebagai hamba Allah. Tanggungjawab = menanggung dan memberi jawaban, sebagaimana didalam bahasa Inggris kita mengenal responsibility = able to response. Dengan demikian pengertia takwa yang kita tafsirkan sebagai tindakan bertanggungjawab (yang ternyata lebih mendalam dari responsibility) dapat didefinisikan sebagai sikap dan tindakan seseorang didalam menerima sesuatu sebagai amanah dengan penuh rasa cinta dalam melahirkan amal prestatif.
Amanah adalah titipan yang menjadi tanggungan, bentuk kewajiban atau utang yang harus kita bayar dengan cara melunasinya sehingga kita merasa aman atau terbebas dari segala tuntutan.