Friday, April 20, 2007

Dunia Ekonomi Kita (lanjutan.....)

Proyek kemiskinan yang dijalankan oleh pemerintah menganut sistem pemerataan. artinya dana kemiskinan di sebar keseluruh departemen dan diimplementasikan dalam program pengentasan kemiskinan. Setidaknya ada 10 langkah program pengentasan kemiskinan yang merupakan langkah taktis dari pengejawantahan strategy triple track versi pemerintah saat ini. Ironisnya, pemerintah tidak mengoptimalkan program pengentasan kemiskinan dengan sebaik-baiknya. Jumlah penduduk miskin pada maret 2006 meningkat dibanding medio februari 2005. Hal ini sangat ironis jika dibandingkan dengan pertambahan dana alokasi pengentasan kemiskinan dari tahun 2005 seebsar 32 T menjadi 42 T pada tahun anggaran 2006 dan naik lagi menjadi 51 T pada tahun anggaran 2007. Anehnya alokasi dana pengentasan kemiskinan ini diambilkan dari pos pemasukan hutang negara. Bangsa yang demikian kaya, dengan limpahan potensi alam dan sumber daya mengalokasikan dana kemiskinan dari sumber hutang. Sungguh ironi yang menyakitkan hati.
Cobalah tengok pada dana-dana filantropi, zakat yang menjadi salah satu kewajiban umat Islam, di Negeri kita ini potensinya mencapai 19,3 T. Hampir seluruh program pemberdayaan zakat diperuntukkan bagi kalangan fakir miskin. Pengelolaan dana zakat oleh lembaga masyarakat yang profesional menjadi satu program yang dirasakan langsung oleh kalangan miskin. Masing-masing lembaga zakat mempunyai binaan dhuafa yang akan mereka bantu untuk menuju ke kemandirian. Entah apa cita-cita republik ini, usaha yang demikian mulia belum juga dibarengi itikad baik dari pemerintah untuk mengurus zakat secara kebijakan. Payung hukum zakat memang sudah ada, tapi masih jauh panggang daripada api. Seolah program pengentasan kemiskinan pemerintah hanya bergerak pada indikator makro sementara pada tataran mikro terlupakan. Justru zakatlah yang mampu menuntaskan kemiskinan pada tataran mikro. wallahu'alam

Friday, February 23, 2007

Dunia Ekonomi Kita

Sungguh memprihatinkan negara ini. Derita rakyat miskin semakin bertambah akibat dari salah urus. Harga BBM yang naik pada 2005 diikuti dengan terjadinya inflasi semakin memperparah kondisi kemiskinan. Kemiskinan di Indonesia pada tahun 2006 mencapai angka 39.05 juta jiwa dengan angka pengangguran terbuka 11,1 juta jiwa. Hal ini berarti ada kenaikan 4,5 juta jiwa dari tahun 2005 dimana angka kemiskinan mencapai 35,1 juta jiwa. Di tahun 2007 kondisi rakyat miskin semakin memprihatinkan. harga beras naik dari 3.500 / kg menjadi 6.500 /kg. Derita ini ditambah dengan permainan tengkulak dimana harga gabah kering pada musim panen kali ini jatuh dari 220.000/kwintal menjadi 180.000 / kwintal. Kondisi ini memunculkan pergeseran kemiskinan atau istilahnya transient poverty. Berdasar data BPS sekitar 56,51 % penduduk miskin 2005 tetap menjadi miskin di tahun 2006 dan sisanya berpindah posisi menjadi tidak miskin. Sebaliknya hampir 30,29 % penduduk hampir miskin tahun 2005 menjadi miskin pada 2006. Bahkan 2,29% penduduk tidak miskin di tahun 2005 jatuh miskin di tahun 2006. Format penanggulangan kemiskinan yang diupayakan pemerintah tak juga menghasilkan sesuatu yang konkret, terkesan lebih banyak lipstik dan menjaga image. Sedangkan format penanggulangan kemiskinan yang diupayakan oleh lembaga zakat terkesan kurang effektif karena memang tidak didukung dengan capital gain yang cukup. Perbandingannya adalah sebagai berikut : jika seluruh LAZ dan BAZ dijumlah total penghimpunannya dalam satu tahun mencapai angka 800 milyar, sedangkan pemerintah mengucurkan dana pengentasan kemiskinan dalam jumlah sekitar 60 trilyun untuk SLT/BLT belum dihitung untuk P2KP. to be continued...........

Thursday, February 1, 2007

Efektifitas Pendekatan Budaya dan Agama di Aceh

Aceh sebagai sebuah entitas etnis dan wilayah tertentu sangat berbeda dengan etnis atau wilayah lainnya di Indonesia. Masyarakat Aceh adalah masyarakat yang pluralistis dan “terbuka”. Di daerah Nanggroe Darussalam ini terdapat 8 sub etnis, yaitu Aceh, Alas, Aneuk Jamee, Gayo, Kluet, Simeulu, Singkil, dan Tamiang. Kedelapan subetnis tersebut mempunyai sejarah asal-usul dan budaya yang sangat berbeda antara satu dengan yang lain. Misalnya, menurut sejarahnya, sub etnis Aneuk Jamee merupakan pendatang yang berasal dari Sumatera Barat (etnis Minangkabau) sehingga budaya subetnis Aneuk Jamee mempunyai kemiripan dengan budaya etnis Minangkabau. Sebuah riwayat menyebutkan bahwa berdasarkan asal-usulnya, etnis Aceh dibagi ke dalam empat kawom (kaum) atau sukee (suku). Pembagian ini mulai dilakukan pada masa pemerintahan Sultan Alaaidin Al-Kahar (1530-1552).
Keempat kawom atau sukee tersebut, yaitu :
  1. Kawom atau sukee lhee reutoh (kaum atau suku tiga ratus). Mereka berasal dari orang-orang Mante-Batak sebagai penduduk asli.
  2. Kawom atau sukee imuem peut (kaum atau suku imam empat). Mereka berasal dari orang-orang Hindu atau India sebagai pendatang.
  3. Kawom atau sukee tol Batee (kaum atau suku yang mencukupi batu). Mereka bersal dari berbagai etnis, pendatang dari baerbagai tempat.
  4. Kawom atau sukee Ja Sandang (kaum atau suku penyandang). Mereka adalah para imigran Hindu yang telah memeluk agama Islam.

Setelah tsunami memporak porandakan Aceh, disusul banjir di penghujung tahun 2006, kini upaya untuk membangun masyarakat Aceh pun dimulai. PILKADA yang lalu telah menghasilkan kepemimpinan Aceh yang baru dengan dimenangkannya PILKADA oleh pasangan Irwandi Yusuf dan Muhammad nazar. Sebuah pertanyaan yang muncul kemudian adalah bagaimana membangun masyarakat Aceh kembali seperti sejarah keemasannya yang sudah samapai pada Go International? Bagi Aceh, memang sejarahnya demikian; pernah melambung “go internasional“ dan kini “down“dengan berbagai cibiran dan pelecehan, tidak hanya lintas nasional, bahkan juga “go internasional (negative culture), menjadi sedikit lumayan ketika di gunakan dalam istilah “turun menjadi kearifan lokal“. Dari aspek sosiologis tak mungkin menyalahkan sejarah, tetapi semua orang berhak untuk berbuat sejarah. Kondisi itu dan kini tentu suatu tantangan!

Ada dua pendekatan yang bisa dilakukan sebagai bahan penyusunan platform pembangunan Aceh. Dua pendekatan itu adalah : budaya dan agama. Budaya, karena masyarakat Aceh merupakan masyarakat yang tersusun dari budaya yang berbeda. Seorang ulama Aceh terkenal pada abad XIX , yaitu Teungku Kutakarang yang popular dengan sebutan Teungku Chik Kutarakarang (meninggal 1895) dalam karyanya Tadhkirat al Radikin menyebutkan bahwa orang Aceh terdiri atas tiga pencapmuran darah yaitu Arab, Persi, dan Turki. Teungku Chik Kutakarang tidak menyebutkan adanya pencampuran dengan suku-suku bangsa lain seperti India dan lainnya. Pendapat yang lebih masuk akal dikemukakan oleh Julius Jacob, seorang sarjana Belanda dalam karyanya Het Familie en Kampongleven Op Groot Atjeh (1894) (Kehidupan Kampung dan Keluarga di Aceh Besar). Di sini Jakob mengatakan bahwa orang Aceh adalah suatu anthropologis mixtum, suatu percampuran darah yang berasal dari pelbagai suku bangsa pendatang. Ada yang berasal dari Semenanjung Melayu, Melayu-Minangkabau, Batak, Nias, India, Arab, Habsyi, Bugis, Jawa, dan sebagainya. Dapat disebutkan pula bahwa sultan-sultan terakhir yang memerintah di Kerajaan Aceh secara berturut-turut semenjak Sultan Alaidin Ahmadsyah (1727) sampai dengan Sultan Alaidin Mahmudsyah (1870-1874) dan yang terakhir Sultan Muhammad Daudsyah (1874-1903) adalah berasal dari Bugis.

Agama, karena masyarakat Aceh adalah masyarakat yang memegang teguh agama dan keyakinannya. Ada semboyan di masyarakat Aceh lebih baik mati daripada harus berganti agama (murtad). Hal ini sejalan dengan budaya Aceh yang sarat dengan nilai-nilai Islam.Maka untuk mengembangkan dan membangun masyarakat aceh, pendekatan budaya dan Agama hendaknya berpegang pada beberapa asas antara lain:

a. Setia kepada aqidah Islami (hablum minallah)
b. Bersifat universal (tidak ada gap antar agama, antar bangsa dan antar suku)
c. Persatuan dan kesatuan (hablum minan nas)
d. Rambateirata (kegotong royongan, tolong menolong)
e. Panut kepada imam (pemimpin)
f. Cerdas dengan ilmu membaca dan menulis (iqra’ dan kalam/menulis )

Selanjutnya, menjadi bahan diskusi kita semua, apakah pendekatan agama dan budaya ini efektif untuk membangun masyarakat Aceh?

Wednesday, January 31, 2007

Agenda terdekat

FGD "Membangun Aceh dengan Pendekatan Budaya dan Agama"
Kamis , 1 Februari 2007
Workshop PSPU
Jum'at-Sabtu, 2 - 3 Februari 2007

arti seorang Pemimpin

Setiap orang adalah pemimpin.
Pemimpin jika dialihbahasakan ke bahasa Inggris menjadi "LEADER", yang mempunyai tugas untuk me-LEAD anggota disekitarnya. Bagi seorang kepala rumah tangga maka dia me-lead anggota rumah tangga mulai dari istri, anak, dan khadimah. Bagi seorang manajer maka dia me-lead rekan kerja dibawah gugus tugasnya. bagi seorang direktur/presidhen direktur maka dia me-lead lemabaga yg dia pimpin. Tahukan anda apa makna LEAD?
Loyality, seorang pemimpin harus mampu membagnkitkan loyalitas rekan kerjanya dan memberikan loyalitasnya dalam kebaikan.
Educate, seorang pemimpin mampu untuk mengedukasi rekan-rekannya dan mewariskan tacit knowledge pada rekan-rekannya.
Advice, memberikan saran dan nasehat dari permasalahan yang ada
Discipline, memberikan ketauladanan dalam berdisiplin dan menegakkan kedisiplinan dalam setiap aktivitasnya.
Andakah pemimpin itu?

Mengurai kepenatan

Subhanallah.....perjuangan memang membutuhkan pengorbanan, baik dalam perjuangan menghidupi keluarga ataupun perjuangan dalam menegakkan sistem dan mendevelop kehidupan. yah perjuangan demi perjuangan akan menggoreskan titik-titik kepenatan dalam diri kita. Kepenatan tersebut lambat laun akan semakin menggunung dan pada waktunya akan mencair. Acapkali kepenatan tersebut susah untuk dicairkan, sehingga dibutuhkan formula untuk menguraikan kepenatan-kepenatan tersebut.
Berikut ini adalah formula yang bisa dijadikan alternatif:
1. Tilawah Qur'an
2. Tarik nafas dalam-dalam dan pejamkan mata kosongkan pikiran lalu hembuskan nafas secara perlahan selama 5 menit
3. Pergilah ke gunung kemudian berteriaklah sekeras mungkin. Luapkan semua emosi dan energi
4. Kalau perlu pergi ke dufan, mumpung ada tiket terusan 35 ribu rupiah sampai 16 Februari
5. Ada yg mo ikut.......!!!!!

Tuesday, January 30, 2007

Menjemput Rezeki

Dalam ceramahnya di acara sarasehan keberpihakan ekonomi pada rakyat miskin, Aa Gym mengatakan bahwa kemiskinan di Indonesia adalah bukan kemiskinan harta, tetapi lebih pada kemiskinan ketrampilan untuk menjemput rezeki. Karena sesungguhnya rezeki manusia itu sudah disiapkan oleh Allah SWT untuk semua hambaNya.
" Wa maa min dzabbatin fil ardh illa 'alallahi rizquha"
dan tidak satupun makhluk yg melata di dunia kecuali telah Allah tetapkan rizkinya.
jadi bukan diminta untuk mencari, tetapi menjemput rizki. Kalau mencari itu antara ada dan tiada, tetapi kalau menjemput itu pasti sudah ada perkara bertemu atau tidak itu soal lain. Ada tips yang diberikan oleh Aa yaitu kaya GIGIH.
Ghiroh, harus ada semangat dalam megupayakan menjemput rizki
Input, adanya bekal/input keilmuan, input pengalaman dan input wawasan
Gagasan, adanya ide-ide segar, dan ketrampilan untuk memperbaharui diri
Ibadah, bagaimana kualitas ibadah kita, qiyamul lail kita, dan amalan sunnah kita menjadi kekuatan.
Hati, jangan sampai kesombongan, kataqaburan, riya' dan dengki menjadi duri dalam diri.
So bagaimana dengan anda? siapkah untuk menjemput rizki yang Allah telah siapkan? maka bermimpilah...........Karena mimpi adalah cita-cita

Menakar Keikhlasan

Hari-hari kemaren dan hari ini, adalah hari-hari dimana hati ini mengalami gundah gelana. Ya , sebuah keikhlasan.....Layak dipertanyakan dalam hati ini. karena perbuatan kita sebesar apapun manfaatnya, sebesar apapun nilainya dihadapan orang akan menjadi sia-sia jika tidak dibarengi dengan IKHLAS. IKHLAS menurut Al Ghazali dan Ibnu Hajar dalam kitab Tazkiyatun Nafs-nya didefinisikan sebagai bentuk keridloan. dia ada ditengah-tengah antara dua hal. Riya' dan syirik. Dikatakan riya' jika seseorang melakukan amal karena manusia, dan dikatakan syirik jika seseorang meninggalkan amal karena manusia. Maka Ikhlas adalah diantara kedua hal tersebut.
Ketika kita bekerja, ukuran keikhlasana kita dihitung dari nawaitu awal kita ketika menerima pekerjaan dan ketika berangkat dari rumah. Niat adalah sesuatu yang melintas pertama kali di hati kita sebelum kita melakukan satu perbuatan. Niat inilah yang menjadi tolok ukur pertama dalam keikhlasan. Innamal a'malu binniyati